Lewati ke konten
Puguh Sulistyo Pambudi Freelance Web Developer | Guru SMK
  • Beranda
  • Profil Saya
  • Belajar
    • Vibecoding
    • Kecerdasan Buatan
    • Koding
    • Python
    • WordPress
    • Internet of Things
Cari

Tekan Enter untuk melihat semua hasil · Esc untuk menutup

Beranda / Wordpress / Jualan Tema WordPress di 2026, Masih Cuan atau Udah Kedaluarsa?
Wordpress

Jualan Tema WordPress di 2026, Masih Cuan atau Udah Kedaluarsa?

Puguh Sulistyo Pambudi
Puguh Sulistyo Pambudi Mei 29, 2026 · 7 menit baca · 10
Jualan Tema WordPress di 2026, Masih Cuan atau Udah Kedaluarsa?
Daftar Isi
  1. 1 Dulu Memang Jaya Banget
  2. 2 Terus Sekarang Gimana? Jujur Aja Deh
  3. 3 Kenapa Pasar Tema Mulai Sepi?
  4. 1. AI dan Website Builder Makin Canggih
  5. 2. Ada Framework Alternatif yang Mulai Dilirik
  6. 3. Persaingan Makin Ketat di Marketplace
  7. 4 Tapi… Bukan Berarti Mati Total!
  8. 5 Kunci Bertahan: Jangan Jualan Tema “Serba Bisa”
  9. 6 Pilihan Lain: Pivot ke Jasa, Bukan Produk
  10. 7 Kalau Mau Tetap Jualan Tema, Ini Tipsnya
  11. 8 Jadi, Kesimpulannya Gimana?

Beberapa hari lalu, saya iseng bikin pertanyaan sederhana di Threads:

“Jualan tema WordPress, gimana menurutmu?”

Ternyata… diskusinya panjang banget. Banyak yang kasih komentar, dari yang bilang “gass aja!” sampai yang bilang udah kayak “menggarami laut”. Nah, dari diskusi itu, saya mau rangkum semuanya jadi artikel yang semoga bisa kasih gambaran nyata tentang kondisi bisnis tema WordPress di Indonesia saat ini, di tahun 2026.

Yuk, kita bahas pelan-pelan!

Dulu Memang Jaya Banget

Kalau kamu udah lama berkecimpung di dunia WordPress, pasti tau masa kejayaan tema WordPress itu luar biasa. Beberapa orang di komentar thread saya cerita pengalaman mereka:

  • Era 2006–2007: Mas arhamharyadi bilang waktu itu ramai banget. Orang-orang baru kenal WordPress, butuh tampilan yang bagus, dan tema adalah jawabannya.
  • Era 2011–2015: Mas rarifandi bahkan bilang di era itu, dengan kerja bareng alias kolaborasi, omset 1 juta bisa banget diraih.
  • Era 2019–2022: Kak sav.savira bilang masih oke juga di tahun-tahun itu.

Jadi kalau dihitung-hitung, hampir 15 tahun lebih bisnis tema WordPress itu tumbuh dan berkembang. Nggak heran banyak developer Indonesia yang dulu pilih jalur ini sebagai sumber penghasilan utama.

Rarifandi adalah co-founder Sejoli.co.id
Wordpress Developer

Terus Sekarang Gimana? Jujur Aja Deh

Nah, ini bagian yang paling penting.

Dari komentar-komentar yang masuk, mayoritas sepakat: pasar tema WordPress di 2026 udah berubah drastis. Bukan berarti mati total, tapi memang jauh berbeda dari era emasnya dulu.

Mas agungbharata.as punya analogi yang cukup keras tapi jujur:

Frontend Developer

“Redd ocean mas. Kecuali plugin yg nge solve problem spesifik. Jualan theme saat ini udah kayak menggarami laut. Gak worth sama development maintenance serta support ke user.”

Buat yang belum familiar, “red ocean” itu istilah bisnis yang artinya pasar udah sangat ramai dan persaingannya brutal banget — kayak lautan merah karena saking sengitnya. Sedangkan “blue ocean” itu pasar yang masih sepi dan peluangnya besar.

Dan poin soal maintenance dan support ini yang sering dilupakan orang. Banyak yang mikir jualan tema = jual sekali, dapet duit. Padahal kenyataannya:

  • WordPress terus update versi
  • Plugin-plugin juga update
  • User sering komplain kalau ada yang error
  • Kamu harus terus maintain kompatibilitas

Energi dan waktu yang habis untuk hal-hal ini kadang nggak sebanding sama harga tema yang dijual. Apalagi kalau harga temanya murah.

Kenapa Pasar Tema Mulai Sepi?

Ada beberapa alasan kenapa bisnis tema WordPress makin berat sekarang. Ini bukan opini saya doang, tapi juga dari diskusi di thread tersebut:

1. AI dan Website Builder Makin Canggih

Mas dickyibrohim (yang terverifikasi di Threads) kasih insight menarik:

“Era ai dan builder, tema mungkin mulai kurang diminati (tapi masih ada yang minat kok – Saya sering bantu atasi web crash milik klien agensi lain, terlihat temanya hasil beli jadi).”

Sekarang orang bisa bikin website sendiri pakai AI atau website builder kayak Elementor, Divi, Webflow, bahkan platform no-code lainnya. Nggak perlu beli tema premium, karena toolnya udah kasih template gratis yang cukup bagus.

Dan saya sendiri di thread itu sempat tanya: “Mungkin gak ini disebabkan semua orang bisa vibecoding?” — dan jawabannya memang iya, vibecoding (bikin website/kode dengan bantuan AI) bikin semakin banyak orang bisa bikin tampilan web sendiri tanpa beli tema.

2. Ada Framework Alternatif yang Mulai Dilirik

Di komentar, mas farrosfr kasih info menarik soal Astro — framework JavaScript modern yang juga punya ekosistem tema sendiri. Dia bilang lagi bikin tema di sana.

Ini menunjukkan bahwa developer yang dulu bikin tema WordPress, sekarang mulai eksplorasi platform lain. Astro, Next.js, dan framework modern lainnya punya pasar tema tersendiri yang sedang berkembang.

3. Persaingan Makin Ketat di Marketplace

ThemeForest, Creative Market, dan marketplace tema lainnya udah dipenuhi ribuan tema. Susah banget buat bersaing kalau temanya nggak punya keunikan yang jelas.

3 Faktor Penggeser Pasar Tema WordPress

Tapi… Bukan Berarti Mati Total!

Oke, setelah baca bagian di atas mungkin kamu mulai pesimis. Tapi tunggu dulu — diskusi di thread saya juga banyak yang kasih pandangan lebih positif dan realistis.

Mas waranugraha_y kasih komentar yang menarik:

“Kalau Indo saya Tau beberapa aja, Dan Masih sangat bisa kok mas dapet pelanggan, terutama niche spesifik seperti web sekolah, showroom, sama portal berita.”

Dan saya pun sepakat. Masih ada developer tema WordPress Indonesia yang tetap jalan dan bahkan cuan — kuncinya ada di niche yang spesifik.

Inilah yang membedakan yang masih survive vs yang kesulitan:

Kunci Bertahan: Jangan Jualan Tema “Serba Bisa”

Kalau kamu masih mau masuk atau tetap di bisnis tema WordPress, hindari bikin tema yang terlalu generik. Tema multi-purpose yang bisa untuk apa aja justru lebih susah dijual sekarang karena persaingannya gila-gilaan.

Yang masih punya peluang bagus adalah tema dengan niche super spesifik, misalnya:

✅ Niche yang masih punya permintaan:

  • Tema untuk web sekolah/kampus — Institusi pendidikan di Indonesia masih banyak yang butuh website resmi. Kalau temamu didesain khusus untuk kebutuhan sekolah (halaman pengumuman, profil guru, kalender akademik), ini masih sangat relevan.
  • Tema untuk showroom otomotif — Dealer motor dan mobil lokal masih banyak. Tema dengan fitur galeri kendaraan, form test drive, dan halaman harga bisa jadi solusi yang mereka cari.
  • Tema untuk portal berita lokal — Media online lokal di daerah-daerah masih terus bermunculan. Tema berita yang ringan, cepat, dan mudah dikelola masih ada pasarnya.
  • Tema untuk UMKM/toko lokal — Integrasi dengan WooCommerce yang simpel, khusus untuk jualan produk lokal.
  • Plugin yang solve problem spesifik — Ini poin dari mas agungbharata. Plugin jauh lebih menarik dari tema saat ini, karena plugin menyelesaikan masalah nyata yang spesifik.
Niche Tema WordPress yang Masih Potensial

Pilihan Lain: Pivot ke Jasa, Bukan Produk

Mas dickyibrohim secara nggak langsung kasih insight penting lainnya: dia sering bantu beresin web crash milik klien yang beli tema jadi. Artinya ada peluang di sisi jasa — bukan jualan tema, tapi:

  • Jasa kustomisasi tema: Beli tema premium, modif sesuai kebutuhan klien, jual sebagai jasa.
  • Jasa maintenance WordPress: Klien yang pakai tema apapun pasti butuh ada yang urus maintenance-nya.
  • Jasa “fixer”: Banyak orang punya website WordPress yang error karena tema/plugin konflik. Ini bisa jadi ladang bisnis tersendiri.

Model bisnis “jasa” ini lebih tahan terhadap perubahan tren dibanding jual produk tema secara massal.

Kalau Mau Tetap Jualan Tema, Ini Tipsnya

Kalau kamu tetap yakin mau jalur tema WordPress, ini rangkuman strategi yang bisa kamu pertimbangkan:

1. Pilih niche yang super spesifik Jangan bikin tema untuk semua orang. Fokus ke satu jenis bisnis atau industri yang kamu pahami.

2. Prioritaskan kualitas daripada kuantitas Lebih baik satu tema yang benar-benar bagus dan terawat, daripada 10 tema yang setengah-setengah.

3. Bangun komunitas/audiens dulu Kalau kamu punya audiens yang spesifik (misalnya grup Facebook admin sekolah, komunitas dealer motor, dll), lebih mudah jualan tema yang dirancang untuk mereka.

4. Pertimbangkan model berlangganan Daripada jual putus sekali, pertimbangkan model subscription untuk akses tema + update + support. Ini lebih stabil secara cashflow.

5. Eksplorasi platform lain juga Seperti yang dilakukan mas farrosfr dengan Astro — nggak ada salahnya explore ekosistem tema di luar WordPress. Pasar baru = persaingan yang lebih sepi.

Jualan tema wordpress menurut founder Gapurahoster

Jadi, Kesimpulannya Gimana?

Kalau ditanya “masih worth gak jualan tema WordPress di 2026?” — jawaban jujurnya adalah: tergantung.

Tergantung pada:

  • Niche yang kamu pilih
  • Kualitas tema yang kamu buat
  • Strategi pemasaran dan distribusi kamu
  • Apakah kamu siap urus maintenance dan support jangka panjang

Masa keemasan tema WordPress yang generik memang sudah lewat. Era “buat tema multi-purpose lalu pasang di ThemeForest dan tidur sambil nunggu duit masuk” sudah makin jauh dari kenyataan.

Tapi bukan berarti peluangnya nol. Dengan pendekatan yang tepat — niche spesifik, kualitas tinggi, dan mungkin dikombinasikan dengan jasa — masih ada ruang untuk cuan di bisnis ini.

Seperti yang saya bilang di thread: “Masih cari-cari pandangan, kali aja udah kalah sama yang vibecoding.” 😄

Ya, vibecoding memang mengubah banyak hal. Tapi selama ada masalah nyata yang perlu diselesaikan, selalu ada peluang buat yang mau kerja keras cari solusinya.

Kamu sendiri gimana? Pernah jualan tema WordPress atau lagi mikirin mau mulai? Share di kolom komentar ya!

Artikel ini terinspirasi dari diskusi nyata di Threads. Makasih buat semua yang udah ikutan komentar dan kasih insight-nya! 🙏

#Bisnis Digital #Plugin WordPress #Tema WordPress #Vibecoding #Web Development #WordPress #WordPress 2026
Puguh Sulistyo Pambudi

Ditulis oleh

Puguh Sulistyo Pambudi
Bagikan
← Sebelumnya Bedah Anatomi Prompt ChatGPT untuk Generate Gambar
Selanjutnya → Mengapa Sekolah Anda Harus Beralih ke Presensi Digital Berbasis Mobile?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer

  1. Anatomi Prompt yang Efektif — 5 Komponen Kunci yang Wajib Kamu Tahu Mei 18, 2026
  2. Mengenal IoT Secara Fundamental: Inovasi Smart Farming September 24, 2026
  3. Zero-Shot, One-Shot, Few-Shot — Teknik Dasar Prompting yang Wajib Dikuasai Mei 18, 2026
  4. Role Prompting — Cara Kasih AI ‘Karakter’ yang Tepat untuk Hasil Maksimal Mei 18, 2026
  5. Chain of Thought Prompting — Cara Bikin AI Berpikir Lebih Dalam dan Akurat Mei 18, 2026

Kategori

  • Kecerdasan Buatan 16
  • Python 9
  • Koding 8
  • Vibecoding 2
  • Aplikasi Pendidikan 2
  • Wordpress 1
  • Internet of Things 1
  • Uncategorized 0

© 2026 Puguh Sulistyo Pambudi — Dibuat dengan ❤

Powered by
Necessary cookies enable essential site features like secure log-ins and consent preference adjustments. They do not store personal data.
None
Functional cookies support features like content sharing on social media, collecting feedback, and enabling third-party tools.
None
Analytical cookies track visitor interactions, providing insights on metrics like visitor count, bounce rate, and traffic sources.
None
Advertisement cookies deliver personalized ads based on your previous visits and analyze the effectiveness of ad campaigns.
None
Unclassified cookies are cookies that we are in the process of classifying, together with the providers of individual cookies.
None
Powered by